Menerbitkan buku (2) jalur tradisional

Sesudah naskah jadi..diprint..kasih judul dulu….bikin judul yang menarik..gak vulgar..menarik perhatian..gak terlalu panjang..gak terlalu teknis…intinya judul yang menarik perhatian calon pembaca lah. Disain cover? gak usah dulu..nanti penerbit yang akan urus.

Penerbit buku komersial mengenakan aturan yang hampir standar. Kita kirim ke mereka naskahnya, bisa electronic file bisa juga hard copy. Detail apa saja yang dikirim bisa dilihat di web mereka. Umumnya kita diminta bikin semacam proposal. isinya kenapa buku ini perlu diterbitkan.. siapa pasarnya… apakah anda dosen (mereka suka kalau buku ini menjadi bahan kuliah mahasiswanya) apalagi kalau dosen di banyak universitas. Sinopsis buku juga perlu dibuat…supaya editor dari penerbit bisa memulai review. Umumnya setelah isi buku dirasa menarik dan OK lalu editor membicarakan dengan bagian marketing untuk lihat pasarnya.

Meskipun semua penerbit mengatakan misi mulia mereka memajukan pengetahuan masyarakat tetapi akhirnya keputusan lebih banyak ditentukan apakah buku ini bakal laku ato nggak di pasar. jadi kalo anda menulis topik yg ringan saja, lagi trend,lagi banyak dibicarakan orang..lagi disukai pasar..kemungkinan bagian marketing akan bilang OK. apalagi kalo anda orang top, selebritas..

Itu juga yg bikin buku-buku di toko buku jadi kurang bervariasi isinya (sirik aja nih gw)..belakangan ini lagi digemari buku-buku spiritual motivator..yg rada melankolis..perjuangan dari bawah dan sukses..dizolimi tapi akhirnya sukses juga…pokoke sukses all the time lah…nah buku yg berat-berat..kayak buku mempertanyakan kewajiban negara dalam mengayomi masyarakatnya…woooi..berat banget…gak bakal kita liat di toko buku. keburu gak layak penerbitan…

gw ngobrol dengan editor salah satu grup penerbit besar..-waktu dia nolak naskah gw- malu malu dia akuin juga bahwa misi penerbit tidak semulia yang dicantumkan..in market we trust..he.he..kalo pasar lagi suka model-model laskar pelangi..ayat-ayat cinta..monggo kita tiru…dengan judul ato isi yg miyip miyip..he..he..

Kalau ternyata memenuhi syarat buat diterbitkan (paling lama 2 bulan reviewnya) mereka kirim surat, pemberitahuan. Mulai saat itu buku kita diedit, didisain layout dan covernya, bahasa diperbaiki, diset ulang ketikannya, gambar dll. Menerima surat ini sendiri sudah merupakan kenikmatan tersendiri. Itu artinya buah pikiran kita pantas dan layak diketahui umum. Dahsyat kan? Bolak balik deh kita diminta tambahin ini itu..paling 2 bulan, selesai sudah seperti buku. Kita diminta sekali lagi untuk lihat sebelum dicetak. Kalau semua OK dicetak deh 3000 exp. dan kita dibagi sekitar 10 exp, buat kenang2an.

Punya boss di kantor?  kasih deh 1 exp yg kita tandatangani tentunya. Ajak juga anak kita ke toko buku..tunjukin buku kita..kan pasti ada foto kita…sambil kaget..wuih bangganya jadi orang tua. eh ni beneran..dosen ku ternyata sama juga, punya buku yang diterbitkan gramedia dan bangga banget dia ketika anaknya kaget foto bapaknya ada di buku yg dipajang di toko buku.

Dari sisi ekonomis..royaltinya 10% dari harga buku dan dibayarkan setiap 6 bulan. Makanya gak heran kalo jadi penulis buku serius di indonesia gak bisa deh buat hidup..percayalah. Royalti kecil dibayar lama..kalo buku serius, orang jarang beli..jadi royalti makin kecil.

Sejak reformasi, penerbitan boleh semaunya saja. Dulu harus perusahaan dan anggota IKAPI, sekarang kita sendiri bisa jadi penerbit. Masalahnya toko buku…kita sudah tulis, cetak sendiri..eh masuk toko buku harus pake distributor dulu…karena toko buku gak mau melayani supplier perorangan kayak penulis. repot kan nanti administrasinya. Distributor motong 55% kira-kira dari harga buku yang terjual di toko buku. Jadi misalnya harga buku kita 100 ribu, kita hanya akan dapat 45 ribu..itu sudah termasuk biaya menulis, mendisain,layout,edit,proofread dan mencetak !!! dahysatkan..jadi memang menulis dan menerbitkan buku bukan bisnis bikin duit boss…

Terakhir-berita sedih tapi sekaligus tantangan yak…gw revisi dua judul naskah yang dulu..lalu mo coba terbitkan..pakai jalur tradisional..ke beberapa penerbit..gagal total. pertama sasaranya pasarnya gak seksi..lembaga non-profit..dah gitu topiknya teknis banget..keuangan…padahal gw yakin ini diperlukan. ditolak penerbit satu ke yang lain..dengan alasan seragam..pasar tidak besar pak..jadi rugi.

Gw nekat nih, biar gw yang cetak deh..jadi toko buku terima jadi lewat distributor..gak mau juga euy distributornya..katanya toko buku kayak gramedia itu sekarang lebih keras ketentuannya..kalo buku dah 2 bulan penjualan gak bagus..dipulangin ke distributor..supaya gak numpuk di gudang toko buku..nah lo. kalo di tarok di gudang..kapan dibeli orang? intinya toko buku lebih selektif memilih buku yang mo dipajang di tokonya…padahal itu buku gak perlu mereka bayar ..kecuali dah laku..

tamatlah upaya menerbitkan buku lewat jalur tradisional ini…tapi sekali lagi, liat aja ini sebagai tantangan..ada namanya print on demand..(POD)..nah ini memanfaatkan digital printing ..teknologi merubah struktur bisnis buku..gw mo coba !!

 

Advertisements

2 thoughts on “Menerbitkan buku (2) jalur tradisional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s