Tukang harian ato borongan?

Klik disini kalau mau dengar versi audio nya..

Kalau mau membangun atau merenovasi rumah, salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah: lebih baik membayar tukang secara harian atau borongan?

Pengalaman gw bangun dan renovasi rumah tinggal, ada 2 jenis tukang. Pertama tukang rumahan. Biasanya kerja untuk perbaikan bocor, ngecat rumah, pagar, ganti keramik. sejenis itulah. Kerja 1-2 minggu aja, ada kenek nya dan bisa ngerjain apa saja. Tapi umumnya gak bisa baca gambar kerja. Karena memang tidak buat kerja bikin rumah baru dari nol.

Kedua tukang proyek. Ini kelompok yang biasanya sekampung ato sodaraan. Kerjaannya maunya 5-6 bulan ato lebih. Biasa nawarin borongan, baik borong upah ato borong sekaligus semua tinggal terima jadi. Jadi setelah sepakat kita tinggal bayar sesuai termin. Mereka yang akan beli material, bayar upah.

Kalo borongan terima jadi, kita harus juga sering kontrol ya. Kualitas kerja, ini yang paling krusial. Borongan terima jadi pasti ngebut kejar waktu. Kerja bisa sampai malam. Kualitas harus diperhatikan tukang yang mengerjakan bukan wewenang kita untuk menunjuk. jadi bisa aja tukang junior yang mengerjakan hal penting seperti plester dan aci tembok.

Kualitas pekerjaan juga penting untuk urusan listrik, plafon, pekerjaan las kalo ada. karena dalam kelompok itu belum tentu ada yang spesialis listrik dll. jadi harus diawasi siapa yang akan mengerjakan hal ini.

Kualitas material, ini juga perlu kita sepakati dan awasi. borongan terima jadi berusaha cepat dan murah. jadi kecenderungan pakai material murah bisa diantisipasi selama proses dengan melihat langsung ke lapangan. Misalnya kita dijanjikan wastafel dengan keran terpasang. ini variasi harganya bisa 5-9 kali lipat. tergantung merk dan series nya. nah kalo kita cermat, di depan sudah kita janjikan merk dan seri nya.

Berikutnya kalau kita pemilik yang suka berubah pikiran. Susah kalo borongan sebab setiap perubahan mengakibatkan tambahan waktu dan material. jadi tidak bisa flexible ato akomodatif terhadap perubahan dari kita.

Terakhir soal berapa borongan yang ditawarkan ke kita. Margin borongan terima jadi itu dari upah dan material. Pemborongnya tentu paham berapa kira kira biayanya. Sementar kita sebagai pemilik tidak memiliki pengetahuan tentang itu. Borongan artinya berapapun biaya yang akan dikeluarkan kita tidak terlibat dan hanya menerima produk saja. Masalahnya pada beberapa kasus yang sering, pemborongnya tidak akurat mengestimasi atau margin yg dihitung sudah dihabiskan dimuka. foya-foya biasanya. Dengan jumlah yang disepakati dia rugi, tidak mungkin meneruskan pekerjaan karena tidak punya kas lagi. Pada kasus ini kita pemilik di pihak yang lemah. pemborong akan bilang kalau tidak ditambah nilainya maka dia tidak sanggup meneruskan. kan tukang harus dibayar, material harus dibeli. Jadilah kita di pihak yang lemah dan terpaksa harus mengiyakan. Beberapa pemilik biasanya menerapkan termin pembayaran yang ketat dan bahkan bayaran mingguan. jadi bisa dihindari foya-foya di depan atau uang dipakai untuk yang lainnya oleh pemborong.

Pada kasus lain, nilai borongan ternyata terlalu tinggi. ya sudah nasib saja. margin yang besar akan dinikmati pemborong. Jadi tidak fair karena kalau rugi, nilai borongan diminta tambah, kalau untung diam saja. Pada pembangunan unit perumahan pekerjaan diberikan borongan oleh developernya.

Untuk memastikan kualitas bahan, dipakai borongan upah saja. jadi kita hanya sepakat tentang nilai upah tukang, dan dibayarkan dalam pelbagai termin. ini untuk menghindarkan resiko diatas. jadi kita yang akan memutuskan pembelian material termasuk kualitas dan harganya. Tentu harus menyediakan waktu khusus untuk pembelian material. biasanya dibantu sih beli nya dimana oleh kelompok ini.

Kalo harian, kita harus punya waktu tiap hari untuk mengawasi dan menengoknya. sekalian harus punya waktu juga membeli material agar tersedia tepat waktunya. kalo butuh hebel untuk dipasang dan belum ada hebelnya dikirim, ya mereka gak ngerjain apa apa alias sok sibuk aja.

Enaknya memang kita jadi fleksibel aja. kalo kita lihat hasilnya gak bagus kita bisa minta diganti tanpa kuatir ditolak. buat mereka kalo dirubah, ya waktu nambah. gitu aja.

Harian tapi tukang minta lembur. Gw gak pernah mau. pertama waktu lembur itu cuma kurang 8 jam tapi dibayar penuh. kedua, ngerjain malam hari itu lebih lambat dan bisa gak rapi. karena tidak dengan cahaya matahari ya. terakhir tukangnya sudah lelah jadi kerja seadanya. Apalagi kalo kerjaan yang dilembur berisik, kerjaan besi misalnya. bisa diamuk tetangga gara gara tukang lembur.

Tapi lebih penting dari sekedar dari sisi keuangan ya, mau borongan ataupun harian haruslah kita tau reputasi dari tukang ini. Cara cek yang paling ampuh kalo memang mungkin ya melihat kerjaan yang sudah dilakukan. jadi kalo tukang tetangga sedang kerja kita bisa lihat kualitas tukangnya. kalo bagus dan kita mau punya rencana bangun rumah silakan dibicarakan. harian ato borongan sama saja.

yang sudah kalo kita tidak tau reputasinya. nah harian lebih enak, kalo jelek dan jorok kerjaannya, kita bisa berhentikan dengan alasan duitnya lagi macet. kalo borongan susah berhentikannya ya.

Tukang rumahan reputasinya sudah terbangun termasuk kejujurannya. karena kerja kadang yg punya ruumah sedang ke kantor. Jadi kalo borongan ato harian tidak terlalu signifikan bedanya.

Tukang proyek harus dilihat cermat, kalo jelek ya diberhentikan saja, Dari pada memperbaiki pekerjaan yang jorok dan ceroboh, lebih baik berhenti ganti kelompok tukang. disini perlunya referensi atau cek fisik langsung kalo mungkin.

Untuk rumah tinggal kalo kita belum paham baiknya harian saja tentu dengan pengawasan yang lebih intens, dengan kelompok tukang yang rapih dan cepat. Kalo tidak punya waktu mengawasi ya borongan upah saja dulu. Material kita bisa beli agar senantiasa tersedia untuk dikerjakan.

Borongan kalo kita tau reputasi kelompok tukangnya dan kita tidak bisa melihat mengawasi lokasi. Mulai saja dengan borongan upah dulu. Jadi tetap kualitas material kita bisa awasi karena kita yang beli.

 

 

 

 

2 thoughts on “Tukang harian ato borongan?”

Leave a Reply