Digitalisasi ternyata bisa cegah korupsi

Teknologi makin maju..makin murah dan ternyata bisa bikin korupsi dicegah. JAdi dengan teknologi tidak perlu lagi menghimbau atau memohon agar aparat pemerintah berintegritas, tidak usah lagi memohon agar pelayanan publik diperbaiki, tidak usah juga bingung bagaimana merealisasikan yang namanya peran serta masyarakat mengawasi pemerintah. Seketika..sim salabim..bisa terjadi dengan penggunaan teknologi. Gampangnya gw bilang digitalisasi aja…

Beberapa contoh riil gimana teknologi dipakai, sudah terjadi nyata di indonesia sendiri…

  1. Cegah korupsi di bidang penerimaan daerah:

Penerimaan Asli Daerah-PAD, seharusnya ini yg menjadi tulang punggung penerimaan daerah. Sayangnya 90% lebih daerah masih lebih besar transfer dari pusat daripada PAD nya. Untuk kota ato kabupaten yang banyak restoran, hotel, bar/cafe ato karaoke, salah satu PAD yang penting datang dari pajak hotel restoran dan tempat hiburan.

Itu bukan pajak dari pengusaha, justru ini pajak yangdikenakan ke masyarakat waktu menggunakan fasilitas hotel, restoran dan tempat hiburan termasuk beli makanan dan minuman di dalamnya. Jadi pemerintah daerah minta tolong ke pengusaha hotel restoran dan tempat hiburan untuk memungut pajak 10% atas penjualannya ke masyarakat. Kalo kita makan di restoran senilai 100 perak, kan tagihannya ditambah 10% jadi 110 perak..lalu ditambah lagi dengan service 10% misalnya..jadilah kita bayar 120 perak. Demikian juga kalo nginep di hotel, dari tarifnya selalu ada tambahan 10% untuk pajak. Nah ini dia yang disebut pajak daerah..pajak hotel restoran dan tempat hiburan. Jadi pengusaha memungut dari masyarakat 10% dari tagihan makan minum hotel tempat hiburan..lalu pengusaha harus setor ke kas daerah. Jadilah ini disebut sebagai pajak daerah.

Tanpa banyak masyarakat paham, terjadi korupsi besar besaran. Pengusaha memungut dari masyarakat yang 10%,tetapi tidak semua disetor ke pemerintah daerah. Mereka main mata dengan pegawai pemda. Katakanlah sebulan ini total penjualan restorannya 1000 perak, tentu ini menerimanya 1.100 perak..nah pajak yang 100 perak ini yg jadi obyek korupsi. Dia main mata dengan pegawai pemda..bayar ke kas daerah cukup 10 perak, kasih oknum pemda tadi 20 perak..jadi dia ngantongin pajak yang dipungut dari masyarakat 70 perak. Jadi kalo digabung dengan keuntungan dia dari produk makan minumannya..kebayang tuh banyaknya. Pegawai pemdanya bahagia, pengusaha bahagia. Tinggal aja pemerintah daerah penerimaannya bocor terus.

Digitalisasi bisa dijalankan dengan sederhana. Semua hotel restoran tempat hiburan di kasir ato mesin cash registernya dipasang alat yang bisa merekam semua transaksi penjualan. Taping box misalnya. Dari situ bisa dipantau dari kantor pemda berapa penjualan yang terjadi, dan dengan mudah nya 10% pajak daerah bisa dipantau. Kalau pengusaha diwajibkan punya rekening di bank dan otomatis 10% dari penjualan hari ini akan dipindah dari rekening pengusaha ke rekening pemerintah. Selesai deh urusan korupsi dari sisi penerimaan daerah. Beberapa kota menjalankan ini dengan massal, alat disewa dan dipasang serta diawasi ato dimonitor di ruang khusus. Jadi kalo ada pengusaha yang mematikan alat ato tidak mengoperasikannya, langsung didatengin dan diperiksa. Kalo sengaja tidak mengoperasikan, dicabut langsung ijin nya. Percaya nggak, banyak penerimaan pajak jenis ini di kota kota besar naik drastis bahkan ada yang hingga 300%…Artinya,selama ini pajak yang 10% ini dinikmati bersama oleh pengusaha dan oknum pemda..begitu digitalisasi di terapkan, langsung penerimaannya loncat tinggi.

2. cegah korupsi di perijinan

Kuncinya juga sederahana, digitalisasi ato pemanfaatan teknologi informasi ini diarahkan untuk mendorong transparansi perijinan. Musuhnya korupsi kan transparansi..kalo terbuka otomatis akses publik bisa terjadi..semua bisa melihat proses, maka otomatis partisipasi untuk pengawasan pelayanan juga terbuka.

Sejak 2017, seluruh pemerintah daerah sudah diwajibkan untuk memusatkan seluruh proses perijinan ke dinas khusus namanya dinas perijinan terpadu satu pintu.- PTSP. Jadi ijin mendirikan rumah sakit, sekolah, imb, ijin trayek angkot dll bila masyarakat ingin mendapatkannya tinggal dateng ke satu tempat aja. Sebelumnya kan ribet. mo dapet ijin mendirikan klinik kesehatan. harus dateng ke dinas kesehatan minta rekomendasi, lalu ke dinas tata ruang untuk lokasi klinik, lalu ke dinas tenaga kerja, mendaftarkan tenaga kerjanya..ribet kan. dengan ptsp, tinggal dateng ke satu tempat aja..dan disitu wakil dari dinas terkait ngumpul..jadi masyarakat gak perlu ke masing2 dinas bolak balik. Bagus banget ide nya.

Teknologi informasi dipusatkan di pelayanan perijinan ini. Paling sederhana, sebelum datang urus ijinnya, masyarakat perlu informasi syarat2 yang harus dilengkapi, berapa lama prosesnya, berapa biayanya..nah ini semua ditaruh di website dinas PTSP. Jadi sebelum datang fisik dah bawa semua dokumen persyaratan. Gak ada lagi disana dibilang gak lengkap, lalu daripada balik lagi abis ongkos abis waktu..lalu minta tolong oknum.

Bahkan beberapa pemda website nya sudah bisa interaktif. Jadi kita bisa memproses ijinnya dengan on-line. Dari Jakarta bisa urus ijin ijin di daerah lain tanpa harus kesana. Lihat deh jaga.id…disana ada link semua website perijian pemda se Indonesia. Dari situ keliatan mana yang sudah bisa proses ijin online, mana yang baru transaparansi informasi saja…

Digitalisasi juga dipakai waktu memproses perijinannya. Kalo sudah dapat nomor tanda terima dokumen, kita bisa monitor sudah sampai mana prosesnya lewat teknologi juga. Jadi gak usah datang fisik dan nanya dah sampai mana..dijawab masih proses..selanjutnya, bisa gak minta tolong..nah mulai deh. PTSP diminta bikin web yang bisa menunjukkan di meja ke berapa ini ijin sedang berjalan..jadi bukan hanya dijawab sedagn proses..tapi di meja keberapa dari berapa meja seharusnya..mantap kan.

Terakhir digital dipakai waktu ada keluhan. Gak usah nulis keluhan lalu masukin ke kotak di kantor perijinan. Cukup pakai HP..sampaikan keluhannya..dan ditujukan langsung ke kepala daerah. Nah kalo belum ditindaklanjuti..keluhan kita terus ada di HP kepala daerah juga..kan pasti ditindaklanjuti tuh sama kepala dinas nya ya…Jadi korupsi di perijinan bisa dipangkas dengan teknologi.

3. cegah korupsi bantuan sosial

Digitalisasi menurut pengertian gw yg awam ini termasuk juga penggunaan data base yang dikumpulkan dengan lengkap dan dipelihara alias diupdate secara teratur. Nah ini juga bisa mencegah korupsi ato mencegah kerugian negara secara signifikan. Dan sudah terbukti banget waktu jaman pandemi ini. Secara spesifik penggunaan Nomor Induk Kependudukan-NIK  yang dipelihara kemdagri lewat dirjen penduduk dan catatan sipil.

NIK ini sudah mencakup hampir seluruh penduduk indonesia ..kurang 2 juta lagi kalo gak salah. Nah artinya semua sidik jari, foto wajah, data data kependudukannya kan sudah ada ya. Dah gitu pemerintah mo kasih bantuan sosial besar2an selama pandemi. Ternyata database penduduk miskin-Data Terpadu Kesejahteraan Sosial-DTKS  yang dipelihara sama Kementerian Sosial gak update banget. Jadilah bantuan salah sasaran. Yang bener bener miskin gak dapet, yang gak miskin malah dapet. Ato yang dulu miskin sekarang dah gak miskin lagi tetap dapet..sementara yang dulu gak miskin..tapi gara gara pandemi jadi miskin, tetap gak dapet. Nah error ini gara gara data base penduduk gak update.

Dimana peran digital teknologi. mengupdate data base ini..jadilah dari 100 juta orang yang ada di DTKS dipadankan ato dicek dengan data dukcapil..menjawab pertanyaan sederhana..ini bener2 ada gak sih orangnya. Hasilnya mencengangkan..hampir 50% gak ada NIK nya. alias kita gak yakin ini orang ada ato nggak di Indonesia ini…Lalu dibuang dulu data yang gak ada NIK nya, sambil diupdate sama data pemda. Pemda yg setor siapa siapa aja yang bener bener memenuhi kriteria miskin..tapi ber NIK ya. masuk deh ke DTKs baru ini. Bayangin kalo 50 juta data gak yakin kita ada ato nggak orangnya..dikali 200 ribu perak bantuan ke orang2 ini..kan artinya sudah 10 Trilyun tuh duit negara selamat.

Pemerintah mo kasih bantuan prakerja..dipadankan datanya dengan NIK yang ada di Dukcapil. selesai tuh..artinya yg nerima kartu prakerja bener bener ada orangnya di Indonesia ..dah gitu dipadan dengan data PNS dan TNI/Polri yang ada di Badan Kepegawaian Negara..paling nggak 100 ribu orang kejaring..artinya mereka PNS tapi tetap daftar kartu prakerja..dan diterima. Dengan pemadanan ini dicoret lah sekitar 100 ribu orang..bayangkan kalo dikalikan nilai prakerja nya..kan selamat tuh uang negara gak jadi kasih bantuan prakerja ke orang yang sudah bekerja sebagai PNS/TNI/Polri ternyata..gegara cek data ke dukcapil berbasis NIK.

Dah gitu pemerintah mo kasih bantuan subsidi upah..waktu itu untuk yang gajinya dibawah 5 juta per bulan, pemerintah mo kasih tambahan gaji 2.4 juta saja. Nah dari BPJamsostek dah ada tuh siapa aja yg gajinya dibawah 5 juta..dan berbasis NIK. Dari situ kan dibilang tidak boleh ganda nerimanya dengan bantuan lain..nah mulai lah pemadanan dengan bantuan pra kerja…terlihat beberapa NIK ternyata nerima ganda..dah gitu dengan DTKS.

Masih ada lagi, bantuan listrik gratis buat yang 450 watt dan 50% untuk yang 900 watt. ini juga NIK berperan. ini kan asumsinya masyarakat yang listriknya 450 watt ini orang miskin. Jadi untuk meringankan beban pada masa pandemi ini. 11 Trilyun disiapin untuk mensubsidi dalam bentuk gratis biaya listrik sampai akhir 2021 ini. Sayangnya di PLN data pelanggan gak ada NIK nya. Soalnya kan jaman dulu daftar jadi pelanggan belum pakai NIK nya. NIK itu mulai 2015. JAdi sekarang lagi ditambahkan data NIK di setiap data pelanggan. Caranya dipadankan data pelanggan dengan NIK di dirjen dukcapil Hasilnya dari 32 juta data pelanggan 450 watt dan 900 watt, ternyata hanya 14 juta yang ber NIK. sisanya harus diperiksa fisik di lapangan dan ditambahkan NIK nya. Dari 14 juta ber NIK ini akan dipadankan lagi dengan DTKS..untuk memastikan bahwa pelanggan ini memang miskin.

Hasil awal sih sudah bisa diduga..dari 14 juta ini, 100 ribu pelanggan ternyata punya sambungan listrik lebih dari 1…jadi masa iya orang miskin punya sambungan listrik lebih dari 1 ya…Belom lagi kalo dipadankan dengan DTKS. kalo gak ada NIK nya di database DTKS kan artinya ini orang bukan miskin ya. Demikian seterusnya…jadi dengan NIK bisa dihindarkan salah sasaran bantuan..ato bantuan ganda..ato bantuan ke orang yang gak seharusnya.

Kedepan model pemadanan data berbasis NIK ini yang mo dipake..jadi subsidi listrik sedang jalan..prosesnya ber NIK dulu baru bisa dipadankan dengan DTKS-data base orang miskin se Indonesia. Lalu subsidi LPG..kasih aja uang ke orang miskin yg sudah berNIK dan ada di DTKS NIK nya….jadi mereka yang akan beli elpiji sendiri dengan harga normal..

Bandingkan dengan sekarang…pemerintah bayarin PErtamina supaya produksi LPG melon..namanya subsidi..janjinya supaya LPG melon ini ditujukan untuk orang miskin..dan harganya harus lebih murah dari harga LPG biasa..yg biru itu. Kenyataannya gak terjadi..LPG melon dipakai siapa pun boleh.jadilah subsidi makin besar..karena PErtamina mengklaim kalo LPG melon nya kurang nih di pasar..langka jadinya. Padahal yang menikmati belum tentu orang miskin..harganya sama kalo yg beli orang miskin sama nggak miskin…. jadi sia sia aja uang pemerintah kan. itu perlunya NIK dan DTKS jadi database andalan.

Subsidi pupuk juga gitu. Pemerintah kasih subsidi ke PT Pupuk Indonesia untuk memproduksi pupuk dengan harga yang lebih murah dari harga pasar….nah selisih harga ini pemerintah yagn bayar. JAdi kalo pupuk harga di pasar 12 ribu/kg, pemerintah minta supaay PT Pupuk Indonesia jual ke petani dengan harga lebih murah..misalnya 8 ribu/kg. Supaya gak rugi, yang 4 ribu/kg dibayar pemerintah ke BUMN ini.  Tapi yang terjadi pemerintah keluarkan subsidi sekitar 30T..eh pupuknya harganya normal di lapangan. siapa aja bisa beli…bukan petani miskin. Kedepan, uangnya kasih ke petani aja..lalu suruh beli pupuk dengan harga normal. Tentu yang nerima petani yg berNIK dong…

Nah buat yang punya kebisaan IT, monggo tuh..bikin aplikasi ato apalah..yang bisa mencegah korupsi. kuncinya sederhana aja..apapun itu, bikin prosesnya terbuka sehingga semakin banyak orang yang bisa lihat. otomatis kalo mo macam-macam orangnya kan bakal mikir dua kali. Kita lihat aja deh gimana polantas yg pungli di jalan aja dengan teknologi bisa disiarin..dan kena sanksi. Jaman dulu gak mungkin bisa terjadi nih…jaman sekarang? bisa banget.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: