Family in crime: keluarga dan korupsi

Suami istri yang jadi pasien KPK sampai akhir 2020 ada 13 pasangan. Eh tahun 2021 nambah satu lagi. Jadi sejak 2012, dimulai dari kasus ex bendahara demokrat dan istri..hingga 2021 sudah 14 pasangan. Salah satu kasus itu ternyata lebih fantastis lagi.., sekeluarga tersangkut !  Pemberi suap adalah perusahaan swasta, dimana suami istri menjadi direksinya. Kedua anaknya, jadi direksi di perusahaan lain. Kedua perusahaan inilah yang menyuap pejabat kementerian PUPR.  Sebagian besar kasus pasangan korup ini dari kepala daerah, baik gubernur maupun walikota/bupati. Sebagian lagi tentu pasangan suami istri dari pengusaha sebagai penyuap. Kalau kasus korupsinya suap-menyuap, baik pemberi suap maupun penerima suap pasti jadi tersangka.

Selain pasangan suami istri, ada lagi kombinasi anggota keluarga yg jadi narapidana kasus korupsi. Orang tua dan anak. Bareng-bareng tersangkut di kasus korupsi yang sama. Tercatat ada 2 kasus dimana ayah dan anaknya tersangkut langsung dalam satu kasus. Yang paling diingat publik tentu saja kasus korupsi pengadaan Kitab Suci. Ayah dan anak bekerjasama dari posisi masing masing. Ayahnya anggota parlemen, anaknya swasta.

Masih ada lagi model korupsi yang melibatkan anggota keluarga, tapi tidak dalam kasus yang sama. Misalnya, orang tua tersangkut kasus korupsi yg ditangani Kejaksaan. Anaknya menyuap untuk kasus ibu nya. Akibatnya anaknya juga jadi tersangka kasus korupsi penyuapan. Atau kasus lainnya, orang tua sewaktu jadi kepala daerah, tersangkut kasus korupsi. Nah, pas anaknya jadi kepala daerah beberapa tahun kemudian ternyata juga kena kasus korupsi.

Deretan kasus diatas dengan segala kombinasinya menggambarkan bagaimana anggota keluarga bisa sepakat, sepikir dan satu semangat untuk melakukan pidana korupsi. Dua model kasus yang paling sering. Menyuap atau menerima komisi  atau mengakibatkan kerugian negara melalui mark-up harga pengadaan misalnya.  Jadi peran anggota keluarga terbalik 100%. Istri tidak lagi berperan mengingatkan suami, demikian sebaliknya. Atau anak juga tidak mengingatkan orangtua atau sebaliknya. Semua sepakat dan tidak menganggap korup itu tindakan yang salah. Jadi fungsi anggota keluarga justru mendukung terjadinya pidana korupsi. Kita sebutlah keluarga seperti ini termasuk golongan Satu.

Dari ratusan pelaku kasus korupsi, peran anggota keluarganya bisa berbeda dengan yang diatas. Golongan kedua, kita sebut saja demikian. Anggota keluarga tidak tahu bahwa salah satu dari mereka berkomitmen untuk korupsi. Bisa jadi anak dan istri yang tidak tahu ayahnya sedang bertindak korup, misalnya. Atau anak yang sudah dewasa namun tetap tidak memiliki pemahaman apalagi pengetahuan kalau orang taunya memiliki kekayaan yang tidak wajar karena tindakan korupsinya. Pengusaha yang bisnisnya berurusan dengan pemerintah, biasanya terpaksa kasih suap, kasih komisi. Pejabat pemerintah yagn terkenal gajinya kecil, kalau jadi makmur sekali di jabatan itu, tentu kemungkinan ada sangkutannya dengan tindakan korupsi. Meskipun masih kemungkinan ya. Tapi anggota keluarga sama sekali tidak tahu, bahkan sekedar kemungkinan orang tuanya sedang menjalankan praktek korup. Naif banget, istilah sekarang.

Golong ketiga, anggota keluarga tahu bahwa ada yang tidak wajar dari perolehan kekayaan keluarganya. Dan kemungkinkan besar dari tindakan pidana korupsi. Anak dari pengusaha yang tahu kalau orang tuanya banyak bisnis dengan lembaga pemerintah. bahkan kadang mendengar juga gimana suap atau memberi komisi terpaksa harus dilakukan. Anak yagn orangtuanya bekerja di pemerintah, tentu paham berapa gaji resmi dan fasilitas dari pemerintah. Dengan kondisi saat ini, ia juga paham bahwa tidak mungkin semua yang dinikmati saat ini hanya datang dari penghasilan resmi orang tuanya. Jadi anggota keluarga tahu, namun tidak bertindak apa-apa atau menikmati saja situasi atau kondisi yang ada sekarang.

Gologan ke empat, ini golongan yang ideal dari peran anggota keluarga. Anggota keluarga tahu pasti apa yang seharusnya diperoleh orangtuanya dari hasil pekerjaan di lembaga pemerintah selama ini. Memang gaji kecil, tapi kan ada tunjangan. ada juga fasilitas kendaraan dan rumah dinas. Bahkan kalau jabatannya cukup mapan, maka bisa jadi merangkap jadi komisaris di BUMN misalnya. Jadi semua penghasilan orang tuanya diketahui anggota keluarga. Tentu saja, bila ada yang tidak wajar, anggota keluarga mengingatkan. Mempertanyakan dari mana tambahan yang luar biasa ini. Bila biasanya liburan akhir tahun hanya di dalam negeri, kalau tiba tiba bisa ke Eropa, tentu anggota keluarga bertanaya. Orang tua bisa menerangkan dari mana sumbernya. Terjadi mekanisme kontrol dari anggota keluarga, Tentu saja ini menjadi rambu pengingat keras bagi anggota keluarga lain, orangtua misalnya agar senantiasa hidup dari sumber yang wajar. Ia akan kesulitan menerangkan ke anggota keluarganya ketika menerima komisi yang besar dari pengusaha. Karena anak dan istri punya pengetahuan teknis dan menilai ini pasti ayah menerima suap. Jadi anggota keluarga punya pengetahuan dan menjalankan fungsi kontrol melalui komunikasi yang baik.

Anggota keluarga golongan Satu, mendorong dan mendukung siapapun anggota keluarganya untuk memperoleh harta sebanyak-banyaknya. Tidak peduli melalui cara apapun. Yang pengusaha menganggap kalau menyuap bisa mendapat proyek bisa mendapat keuntungan, kenapa tidak dilakukan. Anggota keluarga mendukung. Yang di pemerintahan pun demikian. Anggota keluarga mendesak agar bisa hidup berkecukupan, meskipun tahu kalau pejabat pemerintah penghasilan resminya tidak mungkin bisa membiayai kehidupan yang mewah. Jadilah orang tua berupaya keras untuk mendapatkan uang lebih banyak. Ia bisa menggunakan kewenangannya untuk menjalankan niatnya. Jangan kuatir, di rumah pasti akan dipuji dan dihargai anggota keluarganya karena berhasil memakmurkan keluarga.

Anggota keluarga golongan dua sangat lugu. Tidak paham dan tidak berupaya mencari informasi tentang perilaku anggota keluarga lainnya. Ini juga sikap yang cenderung mendorong perilaku korup tidak mendapat hambatan, sebaliknya perilaku baik seperti mencari penghasilan yang sah dan jujur tidak mendapat dukungan dan pujian. Dari anggota keluarga tentunya. golongan kedua ini jumlahnya pasti banyak, mayoritas keluarga seperti ini.

Selanjutnya gologn ketiga. Tahu namun pura pura tidak tahu. Takut kalau memprotes maka kenikmatan hidup yang dijalani bisa berakhir. jadi lebih baik pura pura tidak tahu. meskipun secara sederhana dan kasat mata tentu mudah untuk mempertanyakan dari mana orang tuanya mendapatkan semua ini. Hilangnya kemudahan dan kenikmatan hidup justru menciptakan dorongan agar hidup sebaiknya berjalan seperti saat ini. Jangan ada perubahan. Tidak peduli darimanapun asalnya semua kemudahan ini.

Golongan keempat  merupakan keluarga dengan anggota yang ideal. Orangtuanya merasa tidak ada kebanggaan untuk mendapatkan harta sebanyak-banyaknya karena nanti di rumah, anggota keluarga akan mempertanyakan. Apa kebanggaan membawa penghasilan dan harta banyak kalau anggota keluarga tidak menghargai nya? Lebih parah lagi,anggota keluarga mempertanyakan dan bisa jadi justru meminta agar  harta itu dikembalikan saja. Jadi fungsi kontrol berjalan karena pengetahuan tentang korupsi ada dan diimplementasikan.

Bagaimana keluarga kita? termasuk golongan yang mana sekarang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: