berani jujur hebat tapi jujur aja gak cukup

Kebetulan baru diminta ngomong soal integritas di dunia kerja. buat para mahasiswaa yang sudah mo lulus bentar lagi. Seperti biasa, ngomong di depan mahasiswa itu selalu menyenangkan for some reasons.

Generasi Z, katanya..ini generasi yang lahir antara thn 97 sampai 2012..ada sekitar 75 juta orang. Generasi ini penting buat investasi nilai nilai hidup. Mereka sangat terbuka dengan nilai baru, lintas negara juga oke..dan yang penting lagi, menurut gw nih..inilah harapan indonesia buat bebas korupsi. Kalo generasi ini merasa bahwa nyari uang itu gak perlu korupsi..kalo kaya dari korup itu gak keren..gak perlu dibanggain sama sekali…selesai sudah masalah korupsi di negara gw tercinta ini. Jadi sambil ngomong tentang integritas yang gw terjemahin sederhana sebagai jujur, ngomong juga pengalaman pribadi gimana menjaga integritas ini supaya tetap terjaga terutama di dunia kerja ato dunia sesudah pendidikan tinggi. 

Pertama, integritas itu nilai pribadi kita. Kedua, ada ongkos untuk mempertahankan integritas. Ketiga modal integritas doang jelas gak cukup untuk menjalani hidup. Nah 3 point itu yg diomongin..yang pertama sih cepat aja. jelas nilai kejujuran itu nilai pribadi. kita masing  masing yang menentukan awalnya mo selalu jujur dalam hidup ini..ato jujur kalo diperlukan saja…ato yg penting sukses..kalo bisa lewat jujur ya oke..kalo lewat yg lain juga gak masalah. semua pilihan ini kita pribadi yang menentukan.

Dan sejalan dengan waktu..pilihan bisa berubah tentunya..baik karena tekanan dari luar..atopun memang dari dalam kita sendiri yang menginginkan perubahan. Kan bisa aja ya waktu kuliah raja nyontek..pas dah kerja..ato 10 tahun kemudian malah jadi pendakwah yang serius. Tobat dari diri sendiri. Nah ini yg namanya integritas bisa berubah. Sebaliknya juga terjadi. Waktu kuliah sih boleh jadi jujur, soleh, pintar..eh tiba tiba 10 tahun kemudian muncul di media…karena tersangkut kasus di KPK.  Jadi jujur itu diniatkan dari awal, dah gitu sejalan waktu harus dirawat..supaya kalo awalnya niat kerja dengan jujur..dalam perjalanannya dijaga..agar tetap jujur. itu namanya kejujuran yang dirawat. Kalo gak dirawat ya berubah seperti diatas tadi. 

Selanjutnya, jujur pasti ada harganya. kalo salah di jalan raya, kena tilang..ya ikut aja prosedurnya. keluar duit banyak dong..ato habis waktu untuk ke bank. Mo bikin SIM ikutin prosedur, gak lulus harus ulang. balik lagi, gak lulus lagi..ulang lagi. habis waktu bolak balik ke tempat ujian. Lha kalo mo terapkan nilai jujur dalam hidup, kecil kecilan nih..ya ongkosnya harus siap bayar. siap habis waktu..siap bolak balik ngurusnya..bahkan harus siap keluar duit lebih mahal..karena mo ikut aturan.

Di tahap dua ini, jujur ada ongkosnya, biasanya sudah mulai pragmatis alias cari gampang aja lah. Ngapain juga rela ditilang dan ikut prosedur. toh juga sekali ini aja lah. Lain kali ya lebih hati hati. Ato ngurus SIM nembak, toh cuma sekali aja..nanti kan tinggal manjangin aja setiap 5 tahun. Masuk diakal sih dan secara ekonomis pasti ongkos jujur lebih mahal dibanding jalur suap. Meskipun kecil jumlahnya, skala kejadiannya juga sangat personal, tapi ini nih yg berkontribusi ke banyak nya korupsi di Indonesia. Jadi kita, alih alih ikut memberantas eh malah menambah subur. Gara gara gak mau bayar ongkos kejujuran.

Terakhir, jujur aja gak cukup. Jujur iya, tapi kompeten ato punya keahlian itu sama pentingnya. Keahlian itu berguna untuk  merawat kejujuran. Kerja gaji gak cukup, peluang ada tapi mau jujur. Kebetulan dulu sekolah cukup, ya pulang kantor ngajar..capek? jelas lah…tapi lihat, karena keahlian akademik cukup, bisa cari penghasilan tambahan. Di tempat kerja semua dah biasa main fiktif. gak mau ikutan tapi nanti bisa dipindahin keluar nih. Untung urusan IT di tempat kerja semua tergantung pada kita. Jadilah susah nendang keluar meskipun gak pernah mau ikut praktek tandatangan honor fiktif di unit kerja. Ato yang paling jelek pun bisa terjadi. Kalau sudah gak ada jalan untuk merawat kejujuran di lingkungan..ya keluar saja dari lingkungan itu. Kalo kerja, ya cari kerjaan baru. cari tempat kerja yang lebih baik akan mudah kalau kita punya kompetensi, punya keahlian yang bisa digunakan. 

Jadi jujur aja gak cukup. musti ada nilai plus yang kita punya. Mo jadi pengusaha yang jujur, ngurus ijin ke pemda diminta pelicin. Untung aja waktu kuliah cukup aktif. kenal alumni sana sini termasuk yang kerja di pemda. nah, dipakai aja urusan alumni untuk menghindarkan kasih pelicin. Bisa kan gak nyuap tapi urusan selesai…Banyak lagi contoh-contoh lain. Yang jelas gak ada lah satu rumus mujarab untuk merawat kejujuran ini. beda situasi beda solusi. tapi yang sama adalah jujur plus itu yang diperlukan supaya bisa tetap jujur. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: